Cara Mendapatkan Magang yang Digaji di Indonesia & Mengapa Banyak Yang Tidak Dibayar

Magang sering dianggap sebagai jalan masuk ke dunia kerja. Namun kenyataannya di Indonesia masih banyak program magang yang tidak digaji, hanya “uang saku” atau tanpa bayaran sama sekali. Lalu bagaimana caranya supaya kamu bisa mendapatkan magang yang benar-benar digaji? Dan kenapa mencari magang berbayar terasa sulit?


Mengapa Banyak Magang yang Tidak Dibayar?

  1. Peraturan yang ambigu — Menurut Undang‑Undang Nomor 13 Tahun 2003 dan Permenaker Nomor 36 Tahun 2016 memang disebut bahwa peserta magang berhak atas “uang saku dan/atau uang transportasi”. Namun belum ada ketentuan spesifik besaran uang tersebut.
  2. Magang dianggap sebagai bagian dari studi atau pelatihan — Banyak perusahaan dan institusi memposisikan magang sebagai “pengabdian” atau pemenuhan kredit kampus, sehingga tidak memberikan bayaran layak.
  3. Beban magang sebagai tenaga kerja murah — Beberapa magang berbayar rendah atau tidak dibayar karena tugas yang diberikan sudah seperti pekerja tetap, sehingga perusahaan “menghemat” biaya tenaga kerja.
  4. Kurangnya permintaan dari calon peserta magang — Karena banyak mahasiswa menerima kondisi magang tanpa bayaran demi pengalaman, maka perusahaan bisa tetap menawarkan magang gratis.
  5. Transparansi dan pengawasan yang rendah — Praktik magang masih banyak tanpa kontrak formal atau kejelasan hak sehingga eksploitasi masih terjadi.

Cara Mencari Magang yang Digaji

Berikut strategi agar kamu bisa menemukan magang berbayar:

  1. Riset daftar perusahaan yang punya program magang berbayar
    Cari di portal lowongan, LinkedIn, atau situs kampus dengan kata kunci “internship remuneration”, “paid internship Indonesia”, atau “magang berbayar”.
  2. Cek job description dan benefit yang ditawarkan
    Pastikan ada tertulis “uang saku”, “stipend”, “bayar”, atau “kompensasi”. Jika hanya “pengalaman kerja” tanpa bayaran disebutkan, maka kamu harus ekstra berhati-hati.
  3. Tanyakan dengan langsung saat wawancara
    Contoh pertanyaan: “Apakah peserta magang mendapat uang saku atau kompensasi? Berapa besarannya dan apa durasinya?” Menanyakan hal ini tidak buruk — menunjukkan profesionalisme.
  4. Lihat durasi dan tugasnya
    Magang yang layak biasanya punya durasi jelas (misalnya 3-6 bulan), jadwal kerja masuk ke jam kerja normal, dan tugas yang relevan dengan keahlian kamu.
  5. Tinjau legalitas dan kontrak magang
    Pastikan ada MoU atau perjanjian pemagangan, tertulis hak peserta magang, durasi, tugas, dan kompensasi sesuai regulasi।
  6. Manfaatkan koneksi kampus dan komunitas alumni
    Banyak alumni atau kampus punya mitra perusahaan yang terbiasa memberikan magang berbayar. Manfaatkan referensi mereka.

FAQ

Apakah magang yang tidak dibayar itu legal di Indonesia?

Berada di zona abu-abu hukum — Permenaker No. 6 Tahun 2020 mewajibkan uang saku, tapi banyak perusahaan mengabaikannya tanpa konsekuensi berarti.

Kenapa banyak perusahaan Indonesia tidak membayar anak magang?

Karena kombinasi regulasi yang lemah, budaya “magang = belajar gratis,” dan surplus mahasiswa yang bersedia menerima kondisi apapun demi pengalaman.

3. Di platform mana paling mudah menemukan lowongan magang yang digaji?

LinkedIn, Glints, dan Kalibrr adalah pilihan terbaik, ditambah halaman karier resmi perusahaan multinasional yang sering tidak memposting program mereka di platform umum

Dunia Kerja, FYI, gaji, Tips