Kenapa Banyak Lowongan “Marketing/ Sales” & Kenapa Turnover di Banyak Pekerjaan Sangat Tinggi?
Kalau kamu sering cari lowongan kerja, pasti sering ketemu posisi sales, marketing, telemarketing — seolah “semua pekerjaan adalah marketing”. Di sisi lain, banyak orang keluar dari pekerjaannya dalam waktu singkat. Fenomena ini punya akar sebab yang saling berkaitan.
🔎 Kenapa Banyak Lowongan Marketing / Sales?
- Skill verbal & target‐oriented lebih mudah diajarkan
Perusahaan lebih mudah melatih skill sales atau marketing dasar (komunikasi, penjualan, follow up) dibanding melatih skill teknis yang kompleks. Jadi mereka unggulkan posisi yang relatif “mudah disesuaikan”. - Biaya awal lebih rendah & model kompensasi variabel
Banyak lowongan marketing memberikan komisi, bonus dari hasil penjualan. Hal ini mengurangi beban tetap perusahaan. Jika tidak berhasil, perusahaan tidak “terikat besar”. - Permintaan pasar & pemasaran menjadi kunci bertahan
Di masa sulit ekonomi, semua bisnis butuh pemasukan langsung. Marketing & sales jadi garda depan untuk mendatangkan pendapatan cepat. - Entry point yang rendah
Beberapa perusahaan membuka posisi marketing dengan syarat minimal—bahkan tanpa pengalaman—karena bisa jadi gerbang awal supaya kandidat bisa berkembang nanti.
Tapi itu membuat banyak pekerja merasa bahwa “yang nyata” justru itu-itu saja: marketing, sales, promosi produk. Pekerjaan teknis atau spesialis sering membutuhkan pengalaman tinggi dan sering tidak dipampang di platform umum.
⚠ Kenapa Turnover Karyawan Sangat Tinggi?
- Beban kerja & ekspektasi tinggi
Banyak posisi marketing / sales / ritel menetapkan target tinggi dengan pressure besar. Ketidakmampuan memenuhi target jadi alasan resign. - Gaji & kompensasi tidak sesuai dengan beban
Jika gaji tetap rendah tetapi target tinggi, karyawan merasa tidak adil dan memilih keluar. - Kurangnya pengembangan & jalur karir
Pekerja muda sering merasa jalan karirnya tidak jelas, sehingga mereka berpindah perusahaan demi kesempatan yang lebih baik. - Budaya kerja tidak mendukung / lingkungan toksik
Lingkungan yang kurang suportif, komunikasi buruk, manajemen buruk bisa mendorong orang keluar. - Harapan yang tidak realistis & generasi muda yang lebih “eksploratif”
Banyak Millennial / Gen Z mencari pengalaman berbeda, fleksibilitas, dan tidak mau “terjebak rutinitas”. Mereka lebih cepat berpindah jika merasa tidak cocok.
Implikasi & Tips untuk Kamu
- Jika kamu ingin pekerjaan bukan marketing, kamu harus menonjolkan skill teknis + portofolio + jaringan, agar perusahaan tertarik “membuka posisi spesialis” untukmu.
- Saat memilih pekerjaan, cek turnover di perusahaan tersebut (testimoni karyawan, review online).
- Pastikan lingkungan kerja sehat, beban wajar, dan ada jalur pengembangan supaya kamu tahan lama.